Thursday, April 5, 2012

Review: Reality vs AU (Black Rock Shooter TV)

Delapan episode penuh adegan berantem yang intense dan kadang bikin saya ngeri sendiri, dibubuhi mindfvck dan simbolisme dimana-mana yang pada intinya bercerita tentang kehidupan sosial manusia. Nah, saudara-saudara sekalian, bagi saya itulah Black Rock Shooter TV yang imo jauh lebih bagus daripada OVA yang keluar beberapa tahun yang lalu. Bravo, noitaminA. Bravo, bisa menceritakan masalah internal para remaja dengan menggunakan sosok-sosok alter ego yang berkelahi di alternate universe.



arah jarum jam dari si Black Rock Shooter; Chariot, Dead Master, Strength, Black Gold Saw

Reality vs alternate universe. Lebih mending tinggal dimana? Realita yang diwarnai berbagai jenis emosi tapi akan terus menerus menyakiti hati kita, atau alternate universe dimana kita hanya harus berkelahi untuk menyelesaikan semua masalah tapi sebagai gantinya kita tidak bisa merasakan emosi ataupun rasa sakit? Hayo, dipilih-dipilih~ #dor



Well, jangan pikir saya sok bijak karena saya sendiri masih harus melakukan rewatch secara ngga ngerti sepenuhnya ini series tentang apa (ternyata oh ternyata). I mean, kayak saya bilang, penuh dengan mindfvck dan simbolisme yang di mana saya terkadang mesti jadi rajin baca-baca anime blog lain sampai akhirnya dapet momen "OHHH GITU MAKSUDNYA." Herp. Bukan berarti saya oblivious ke semuanya, ada juga yang memang jelas kelihatan tapi butuh dianalisa lebih dalam lagi. Misal, seperti bagaimana Yomi merasa terperangkap dan 'dirantai' karena Kagari yang super-duper posesif terhadapnya.

Uh, jadi pokoknya, BRS ini keren tapi ngga keren. Keren karena animasi dan cara mereka menyampaikan masalah yang simpel jadi penuh action, tapi ngga keren juga karena beberapa orang ngga ngerti cuuy (atau emang sayanya aja yang otaknya ga nyampe OTL;;). Well, paling ngga moral yang disampaikan di episode terakhir itu cukup bermakna untuk saya. Berteman, interaksi, karena kesedihan itu ngga harus kamu pendam sendiri. Kamu bisa membaginya dengan orang lain--teman, orang tua, saudara, siapalah itu orang yang kamu percaya--dengan bercerita, curhat. Gitu deh.

#aseeek

Yuk scoring yuk sekarang.

Plot: 8.5


Sebenernya ya, masalahnya ngga sampe besok kiamat atau ada keluarga yang mati. Yang biasa-biasa aja ditemukan di kehidupan remaja; kayak merasa ditinggal teman, pacaran, surat cinta, teman yang terlalu posesif sama kita, ingin kenalan tapi malu-malu, dan intinya yah--perasaan. Tapi cara staff-nya menyampaikan tema perasaan itu menurut saya bolehlah dikasih applause yang keras.

Apalagi kaitan buku tentang burung kecil itu dengan si Mato. Si burung ingin mewarnai bulunya dengan semua warna di dunia (Mato ingin merasakan segala emosi di dunia ini), tapi pada satu titik bulunya jadi kusam dan dia mati (Mato merasakan banyak hal, tapi ketika dia diberi 'sakit', mentalnya jatuh dan dia jadi ngga kuat). Ini tergantung interpretasi masing-masing sih, tapi menurut saya begitu.

Nyeh, racau, racau. Plot simpel, tapi kembanginnya keren. Karena itu saya kasih 8.5 deh.

Character Development: 9

Noh saya kayaknya salah lapak mau bacot tentang Mato di bagian plot. Imo butuh lebih banyak lagi informasi dan backstory Yuu dan juga Saya-sensei (ngga, ngga bias kok :|). Apalagi Yuu, karena saya ngga nyangka bahwa si Strength/Yuu berperan penting di cerita ini. Kirain cuman si BRS aja, ternyataaaaa. Breakdown tiap karakter juga ditunjukkan dengan jelas, hebat, tapi mungkin emang karena ini tontonan ya jadi rada dramatis. But people can relate lah, paling ngga. I mean, siapa yang ngga shock berat sih waktu tahu ternyata orang yang berkata kalau dia sayang kita, kita jawab perasaannya, terus tiba-tiba bilang dia udah ngga butuh kita lagi? curcolcurcol


Character Design: 8.7

Komplain saya cuman di design Dead Master doang, saya lebih suka yang pas di OVA karena lebih... dark. Tapi mungkin cocokin Yomi versi TV juga ya yang sebenarnya ngga 100% galau, karena itu kostumnya dikasih veil (simbolisme perlu dilindungin dan attachment??) dan warna hitam yang tidak terlalu dominan karena ada warna hijaunya. But overall, saya suka cara mereka gambar karakter-karakternya both di dunia AU dan dunia asli. Flow animasinya juga oke dan saya masih FG-ing tiap liat adegan berantem di episode awal-awal.

Music: 7

Walaupun saya bukan fans berart lagunya, tapi akhirnyaaa itu lagu original BRS dipakai juga, buat opening pula ngga kayak di OVA-nya. Lirik di ending song-nya bagus tapi saya ngga begitu demen lagunya. Iya, iya, sana silahkan kata-katain saya. Saya tahu itu yang bikin Supercell kok. Yaudin lah. Untuk BGM sendiri saya ga komen karena memang imo standar lah;;

Final Score: 8

Kirain bakal jadi kayak OVA-nya lagi, eeh ternyata karakter dan cerita lebih diperdalam. Baguslah, bagus. Sebenarnya saya masih agak bingung dengan ending dan episode terakhir-nya. Ada beberapa hal yang agak off bagi saya. Yah, mungkin hanya butuh rewatch dan baca-baca aja sih.

Ini anime paling ngga ditonton sekali lah karena emosinya dapet banget. Apalagi untuk yang masih remaja dan masih dalam masa-masa labil/galaunya (termasuk saya derp), kalian kurang lebih bisa nge-relate diri sendiri ke karakter yang ada di show ini karena masalahnya sendiri memang beneran bisa/mungkin udah terjadi ke kalian.

No comments:

Post a Comment