Saturday, October 15, 2011

You know that feeling--

--when you get really attached to a certain object?

Yup, saya punya tendensi untuk begitu bahkan kepada benda mati, apalagi sama benda-benda yang sering dipake. Sebut headphone, sebut iPod, pensil mekanik yang kalau ngga salah hitung umurnya udah tiga tahun, penghapus yang bentuknya kayak pensil itu, tanpa mereka saya merasa ngga komplit. Kenapa saya ngga sebut handphone dan laptop? Karena saya memang ngga punya dan mari jangan bahas itu sekarang karena nanti saya malah tambah pengen.

Nah, jadi ceritanya--penghapus saya ilang. Minggu lalu habis sekolah saya taro di depan komputer, terus tiba-tiba menghilang. Poof. Begitu aja, ga tau sekarang perginya kemana padahal udah saya cari-cari sampe ngangkat CPU dan ngecekin satu-satu kantong celana yang sering jadi tempat langganan masukin pensil-penghapus.

And yeah, I miss it. So very much karena menggambar ga enak tanpa penghapus yang ini. Yang bentuknya kayak pensil dan mereknya Zebra itu lho, yang warnanya putih terus ada bantalan karet warna ijo tua. Padahal saya udah beli penghapus lagi (mereknya ngga sama sih, pengen cobain yg baru dan yang ini ada brush-nya buat ngebersihin bekas hapusan) tapi tetep aja rasanya ngga sama kayak yang dulu.

Penghapus, penghapus. Wherefore art thou, penghapus?

Thursday, October 6, 2011

*Insert Suara Makan Apel*

Hari ini saya bebas seharian, ngga ada sekolah dan juga ngga ada les. As usual kalau begini saya bisa bangun lebih siang dari biasanya. Biasa saya bangun jam 8-9, tapi hari ini saya nge-snooze alarm kayak orgil setengah tidur dan akhirnya baru bisa melek dengan bener jam 11. Langsung saja saya ngecek twitter di tempat karena kebetulan wifi rumah nyala--mungkin adek saya lagi pake komputer, kan dia libur hari ini.

Pas ngecek timeline, masa bodo adek saya lagi pake komputer atau ngga, ada suatu berita yang sebenarnya saya tahu akan terjadi sooner or later tapi tetap aja rada kaget pas ngeliat (sampai akhiranya saya kebangun fase 2).

Ya, saudara-saudara sekalian, Steve Jobs meninggal hari ini karena (kalau sumbernya bener) kanker pankreas.

Whoah. Just...whoah. Saya udah menduga dengan yang namanya 'kanker' dan pakai acara ganti CEO Apple kalau kemungkinan besar Steve Jobs akan meninggalkan dunia ini but--woah. Kematian memang ngga bisa diduga, ya?

Saya bukan pengguna OS Mac, dan kalau mau lebih blunt lagi saya kurang suka pakenya. Namun saya dusta sama diri sendiri kalau ngga mau mengakui kalau beberapa inovasi dia berperan penting di hidup saya. Film-film Pixar mengasah kreatifitas saya sedikit demi sedikit. iPod shuffle adalah music player pertama yang paling awet dan saya suka banget pakenya. Setelah 3 tahun memakai, akhirnya saya pindah ke iPod Touch yang jauh lebih canggih dengan adanya ~*layar*~ (shuffle kan cuman tombol doang lmao) yang touch screen pula. Ditambah dengan adanya apps yang bukan hanya untuk entertainment, tetapi juga saya gunakan untuk belajar. Two-finger scrolling di mac itu SANGAT membantu dan saya suka kebiasaan pakai cara ini kalau scrolling di laptop non-Mac karena temen-temen saya pada pake Mac semua. Ini mungkin satu-satunya hal yang saya suka di OS-nya, sayang saya memang bias ke Windows sejak kecil jadi yahh gitu deh.

Nevertheless, you have changed my life, Mr Jobs, dan tentunya orang-orang lain juga pasti berpikir begitu. Berawal dari teknologi, kemudian seni, pembelajaran, sampai akhirnya gaya hidup. Anda bisa melihat masa depan teknologi dan mewujudkannya sehingga kehidupan orang-orang sekarang (albeit yang kalangan atas karena produk buatan Anda mahal banget hiks) menjadi lebih mudah dan juga menyenangkan. Terima kasih atas kontribusinya kepada dunia sampai detik terakhir hidup Anda, semoga Anda diterima di sisinya.

Amin.

ETA: Aku tsundere (???) sama Mac OS karena ceritanya sekarang saya pake Mac OSX Lion yang akhirnya mengerti betapa butuhnya seorang Asa akan sebuah laptop yang bisa membuka 10 program tanpa nge-lag sama sekali.

Monday, October 3, 2011

Hard Disk, Oh, Hard Disk

Bagi seorang penonton anime, hard disk adalah salah satu bagian hidup mereka yang sangat penting. Apalagi untuk para downloader seperti saya yang tiap episode-nya di-DL, bukan di-streaming. Alasannya sih bisa macem-macem, biasanya karena koneksi yang labil makanya lebih enak nge-download. Kalau saya pribadi memang karena koneksi dan juga biar bisa ditonton ulang. Siapa tahu lagi bosen atau pengen nge-screencap, kan enak kalau udah di download.

Masalahnya, semakin banyak anime yang di-download tentu saja free space di hard disk berkurang. Saya lagi khawatir untuk season ini karena banyak yang bagus dan pengen saya tonton, belum lagi ada beberapa anime season lalu yang belum sempet saya sentuh karena lagi konsen sama NO. 6 dan Tiger and Bunny (kayak Mawaru Penguindrum, dan beberapa hari lalu atas rekomendasi temen saya, The Idolm@ster) (saya ngga meng-alay, tulisnya emang begitu).

Season ini pun yang wajib adalah Fate/Zero karena sudah rahasia umum kalau saya pengikut Fate/Series sejak nonton anime Fate/Stay Night (yang kalau dipikir-pikir lagi ga bagus2 amat, saya lebih suka versi VN-nya yang jauh lebih lengkap dan jelas). Saya baru baca vol.1 light novel Fate/Zero tapi langsung jatuh cinta sama ceritanya. Mungkin karena karakternya, mungkin karena fakta kalau Fate/Zero itu prekuel, pokoknya keren dan dulu tuh saya pengeeeeen banget dibikin jadi anime. Alhamdulillah akhirnya dibikin juga dan episode 1 ngga mengecewakan saya.

Terus ada Bakuman S2 yang ending season 1-nya jelas-jelas ngegantung. Shakugan no Shana S3 juga masuk list walaupun saya udah agak lupa ceritanya. Nontonnya udah lama banget, mungkin yang season 2 itu sekitar 2 tahun yang lalu. Kemungkinan saya juga akan nonton Persona 4 males main game-nya dan season 2-nya Sekaiichi Hatsukoi (yang terakhir ga yakin karena saya sedang menjauh dari yaoi-tanpa-plot).

Jadi, yah, harap-harap-cemas hard disk saya cukup untuk season ini. Ditambah lagi saya pakai PC keluarga, gawat juga kalau taro anime yang agak bahaya terus tiba-tiba dilihat. JENGJENG, habis sudah riwayat saya menjadi watcher.

Kalau kalian gimana? Apa aja anime yang kalian mau ikutin di season ini? 'u'

Tuesday, September 27, 2011

Hamlet? Omelette?

Alkisah sekitar dua tahun yang lalu, seorang Asa sedang ngobrol bareng temannya yang suka banget sama yang namanya literatur Inggris. Harry Potter, teenlit barat, sastra klasik, puisi, digarap semua olehnya--beda sekali dengan si Asa yang tidak jelas apa buku bacaannya. Tiba-tiba, temannya bertanya apakah Asa tahu apa itu Hamlet.

"Sa, tau Hamlet ngga?"

Pikir sejenak. Nope, tidak tahu. "Apaan tuh? Makanan?" jawabnya dengan muka yang polos--sama sekali ngga dibuat-buat kalau dia ngga tahu apa itu Hamlet. "Kedengerannya kayak omelet,"

"ITU JUDUL BUKU, GOBLOK," sahut temannya yang kaget karena si Asa ini ngga tahu.

"SERIUS? Yang ngarang siapa?" tanya balik.

"SHAKESPEARE!", sahut temannya lagi, dan kali ini terdengar dari nada bicaranya bahwa dia sedang melakukan mental facepalm di kepalanya.

"I SEE."

INI BENERAN HAHAHAH duh saya memang lemot banget kalo ditanya tentang sastra klasik atau sastra lama, ngga Indonesia ngga Inggris. Alasan saya mulai baca-baca karya Shakespeare aja karena NO. 6. Sastra Indonesia yang lama-lama juga saya baca karena tuntutan sekolah dan sempet waktu itu karena dijanjikan 1 buku = 1 figurin sama ayah.

Bukannya saya benci, emang dari sananya saya ngga pinter sama kata-kata jadi susah ngertiinnya. Plotnya sih oke-oke aja, tapi bahasanya yang susah dicerna itu yang bikin saya males baca. Apalagi kalau bukunya masih pake ejaan lama--dear lord, pengen headdesk karena jadi dobel effort untuk masuk ke otak. Kalau kalian gimana dengan sastra lama, guys? 'u'

Sunday, September 18, 2011

"Welcome...to reality."

Bayangkan kalian tinggal di sebuah kota utopia yang segalanya sempurna. Kota dimana ngga ada yang namanya kerusuhan dan vandalisme, orang-orang miskin. Yang namanya isu kebersihan dan keamanan, krisis ekonomi, air bersih, dan juga makanan, ngga ada. Teknologi sudah sangat maju di sini; dari transaksi di toko, absen kerja ataupun absen sekolah, dan bayar kereta dan kendaraan umun lainnya bisa dengan menggunakan gelang yang berisi chip ID citizen. White board dan chalk board? Apaan tuh? sekarang jamannya menulis dengan tablet, presentasi dilakukan via slideshow yang super canggih, segalanya pun jadi mudah untuk kita.

Itulah, saudara-saudara sekalian, kota yang disebut NO. 6.

Sempurna--saya juga pengen kok tinggal di tempat yang kayak gitu. Semuanya enak, gampang, simpel, beh. Masalahnya, di dunia ini tidak ada yang namanya kesempurnaan. Di balik itu pasti ada suatu rahasia yang biasanya--menurut saya--semakin sempurnanya sesuatu semakin besar dan mengerikan pula yang disembunyikannya.

Dua tokoh utamanya, Shion (kiri) dan Nezumi (kanan)